Selamat Datang

Di KIM Gentong Mas Kota Pasuruan

Juara 1

Tingkat Bakorwil Malang

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Penyuluhan

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 Agustus 2017

11 RAHASIA MERAIH SUKSES

PENGERTIAN KREATIVITAS
Berikut pegertian kreativitas menurut berapa ahli:
a. David Campbell mengatakan bahwa kreativitas adalah kegiatan yang mendatangkan hasil sifat yang baru, berguna, dan dimengerti.
b. John W. Haefele mengatakan kreativitas adalah kemampuan membuat kombinasi – kombinasi baru yang bernilai sosial.
c. George J. Seidel mengatakan kreativitas adalah kemampuan untuk menghubungkan dan mengaitkan, kadang – kadang da engan cara – cara yang ganjil, namun mengesankan, dan ini merupakan dasar pendayagunaan kretif dari daya rohani manusia dalam bidang atau lapangan manapun.
d. Jaques Hadamard mengatakan bahwa kreativitas adalah penggabungan ide – ide
Kesimpulan: Kreativitas adalah kemampuan melakukan kombinasi sumber daya yang menghasilkan barang atau jasa yang sifatnya baru, bermanfaat, dan dapat memenuhi kebutuhan manusia  .
Kesimpulan : Inovasi adalah pengenalan hal – hal baru .
Ciri – Ciri Orang Kreatif
 Menurut David Campbell  ciri – ciri orangkreatif dibagi dalam tiga kelompok :
a. Ciri – ciri pokok . Ciri – ciri pokok orang kreatif adalah melahirkan ide,  gagasan, pemecah masalah, cara – cara baru, dan penemuan: a. Seseorang dapat melahirkan ide- ide dengan mencari jalan termudah bagi dirinya sendiri b. Seseorang dapat melahirkan ide –ide dengan mengubah kekurangan menjadi kelebihan
b. Ciri – ciri yang memungkinkan. Ciri – ciri yang memungkinkan orang kreatif adalah tindakan untuk mempertahankan ide, gagasan, dan kreativitas yang sudah dihasilkan. Hal ini dapat dilakukan melalui : a. kemampuan bekerja keras, b. Berpikir kreatif, c. Pantang menyerah
 c. Ciri – ciri sampingan. Ciri – ciri sampingan  adalah ciri yang tidak langsung berhubungan dengan penciptaan atau menjaga ide – ide yang sudah ditemukan agar tetap hidup dan berlaku dan sekaligus mempengaruhi perilaku orang –orang kreatif, misalnya: seseorang mulai bersifat angkuh, seseorang mulai barsifat tidak peduli pada orang lain( merasa mampu melakukan sesuatu tanpa bantuan orang lain)
Orang yang kreatif harus mengembangkan ciri –ciri pokok dan ciri – ciri yang memungkinkan saja. Sedangkan ciri – ciri sampingan selayaknya dihindari bahkan dihilangkan karena akan menghambat kemajuan seseorang.
Pengembangan Kreativitas dan Inovasi
Cara yang dapat dilakukan untuk pengembangan kreativitas dan inovasi, yaitu dengan: melihat, melihat apa yang ingin kita kerjakan, berlatih, dan terus melakukan perubahan, serta menanamkan mental pada orang kreatif.
Julius Chandra menjelasakan beberapa mental orang kreatif sebagai berikut.
a. Hasrat : mental orang kreatif memiliki hasrat untuk mengubah hal – hal di sekelilingnya menjadi lebih baik.
b. Kepekaan : orang kreatif bersikap terbuka, tanggap, dan peka terhadap segala sesuatu.
c.  Minat : Orang kreatif memiliki minat untuk menggali lebih dalam dari yang telah ada sebelumnya.
 d. Rasa ingin tahu : orang kreatif selalu mempertanyakan sesuatu agar jelas dan berguna untuk perkembangan berikutnya.
e. Berpikir mendalam : orang kreatif berpikir mendalam dan bersikap mengarahkan pemahamaman yang lebih utuh.
f. Konsentrasi : orang kreatif mampu menekuni suatu pekerjaan atau sesuatu yang dilakukannya sehingga dapat mengusai pekerjaannya.
 g.  Sikap mencoba dan melaksanakan : orang kreatif bersedia mencurahkan tenaga dan   waktunya untuk mencari, melaksanakan, dan mengembangkan.
h. Kesabaran : orang kreatif memiliki kesabaran dan ketelatenan untuk memecahkan permasalahan secara detail.
 i. Optimisme : orang kreatif memiliki sikap optimisme dan bergairah (antusias) dan percaya diri.
  j. Mampu bekerjasama : orang kreatif mampu melakukan kerjasama dan bekerja bersama   orang lain.

Orang kreatif memiliki kemampuan, kemandirian, dan ide/gagasan yang dapat muncul dari dalam dirinya (internal) maupun di luar (eksternal). Kreativitas itu bertindak kreatif yang tidak terpaku pada pemikiran baru saja, tetapi bertindak (melakukan) bukan hanya sekali, namun terus – menerus (berlatih)
KEMANDIRIAN
Seseorang yang mandiri dalam setiap tindakannya dilakukan atas kehendaknya sendiri, dengan semangat tinggi dan mempunyai rasa percaya terhadap kemampuan sendiri dan memperoeh kepuasan dari usaha yang dilakukannya.
KEWIRAUSAHAAN
Berasal dari kata wira (gagah, berani/usaha). Wirausaha : orang yang berani berusaha dan berani menanggung resiko atas usaha yang dilakukannya.
 11 Rahasia meraih sukses :
 1.Berdoa kepada Tuhan
 2.Tidak menyia- nyiakan waktu
 3.Mau bekerja keras
 4.Tidak mengikuti gengsi
 5.Jujur
 6.Pantang menyerah
 7.Mewujudkan mimpi menjadi kenyataan
8.Berani mengubah nasib
 9.Sukse Yes, strees  No
       10.Berguna untuk sesama

11.Bersyukur kepada Tuhan

( ADI, 30 AGUSTUS 2017 )

Sabtu, 26 Agustus 2017

LIMA TIPS MENDIDIK ANAK SHOLEH

Lima Tips mendidik anak sholeh


Dalam sebuah riwayat, diceritakan bahwa ada seorang lelaki tua sedang berjalan-jalan di tepi sungai. Saat berjalan-jalan, terlihatlah olehnya seorang anak sedang mengambil wudhu sambil menangis. Lalu ia beratanya, “Wahai anak kecil, kenapa kamu menangis?”

Anak itu menjawab, “Wahai kakek, saya telah membaca ayat Al-Quran sehingga sampai kepada ayat yang berbunyi, “Yâ ayyuhal-ladzîna âmanû qû anfusakum,” yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah olehmu sekalian akan dirimu.” Saya menangis sebab saya takut akan dimasukkan ke dalam api neraka.”

Berkata orang tua itu, “Wahai anak, janganlah kamu takut, sesungguhnya kamu terpelihara dan kamu tidak akan dimasukkan ke dalam api neraka.”

Anak itu menjawab, “Wahai kakek, kakek adalah orang yang berakal, tidakkah kakek lihat kalau orang menyalakan api, maka yang pertama akan mereka letakkan ialah ranting-ranting kayu yang kecil dahulu kemudian baru mereka letakkan yang besar. Jadi tentulah saya yang kecil ini akan dibakar dahulu sebelum dibakar orang dewasa.”

Berkata orang tua itu, sambil menangis, “Sesungguh anak ini lebih takut kepada neraka daripada orang yang dewasa, maka bagaimanakah keadaan kami nanti?”
Bayangkan bila saja yang diceritakan dalam potongan kisah tersebut adalah anak kita. Anak yang kita lahirkan dan besarkan dengan keringat dan jerih payah. Tentu betapa beruntung dan berbahagianya kita sebagai orang tua. Betapa pun banyak keringat yang telah tercucur, tenaga yang telah terkuras, pikiran dan waktu yang telah tersita, semua takkan ada apa-apanya dibandingkan dengan hasil yang kita peroleh, yaitu anak yang shaleh.

Memiliki anak shaleh merupakan dambaan setiap keluarga. Di samping sebagai penerus keturunan, kelak anak shaleh juga akan menjadi investasi di masa yang akan datang. Do’a-do’a anak shaleh adalah pahala yang akan terus mengalir tanpa henti. Ia akan menembus langit dan akhirnya sampai kepada kita sebagai orang tua sebelum ataupun sesudah kita mati.

Berkeinginan memiliki anak yang shaleh bukanlah khayalan. Siapa pun orangnya sama  memiliki kesempatan untuk mewujudkannya. Kehadiran anak shaleh dalam sebuah keluarga bukanlah mu’jizat atau turun dari langit dengan sendirinya. Ia akan hadir di tengah-tengah kita tiada lain merupakan buah dari usaha yang kita lakukan dalam mendidiknya. Bila kita berkeinginan dan berusaha keras mendidik anak agar menjadi anak yang shaleh, maka ia akan tumbuh sesuai dengan apa yang kita inginkan. Tetapi jika tidak, keinginan untuk memiliki anak shaleh hanyalah sebuah angan-angan dan hayalan semata. 

Syaikh Abu Hamid Al Ghazali ketika membahas tentang peran kedua orangtua dalam pendidikan mengatakan: “Ketahuilah, bahwa anak merupakan amanat bagi kedua orangtuanya. Hatinya yang masih suci merupakan permata alami yang bersih dari pahatan dan bentukan, dia siap diberi pahatan apapun dan condong kepada apa saja yang disodorkan kepadanya Jika dibiasakan dan diajarkan kebaikan dia akan tumbuh dalam kebaikan dan berbahagialah kedua orang tuanya di dunia dari akherat, juga setiap pendidik dan gurunya. Tapi jika dibiasakan kejelekan dan dibiarkan sebagai mana binatang ternak, niscaya akan menjadi jahat dan binasa. Dosanya pun ditanggung oleh penguru dan walinya. Maka hendaklah ia memelihara mendidik dan membina serta mengajarinya akhlak yang baik, menjaganya dari teman-teman jahat, tidak membiasakannya bersenang-senang dan tidak pula menjadikannya suka kemewahan, sehingga akan menghabiskan umurnya untuk mencari hal tersebut bila dewasa.”

Berikut adalah beberapa metode dalam mendidik anak,  agar anak diharapkan dapat memiliki sikap dan perilaku yang baik serta sesuai dengan keinginan orang tua dengan berlandaskan norma dan agama.



1.Keteladanan


Keluarga, khususnya orang tua adalah figur awal bagi seorang anak untuk diikuti dan dicontoh perilakunya. Ketika anak mulai beranjak remaja, fungsi ini mulai bergeser kepada kelompok sebaya-nya ataupun figur-figur lain di luar keluarga, seperti tokoh-tokoh dalam film atau cerita. Oleh karena itu, sudah seharusnya orang tua dapat memberikan pondasi awal yang kuat tentang sikap dan perilaku yang positif. Dengan demikian kelak ketika anak dihadapkan kepada situasi yang sangat kompleks, anak akan lebih siap dan konsisten terhadap pendiriannya.

Agar tujuan ini terwujud, maka tentunya harus ada keteladanan dari orang tua. Ingatlah suatu perbuatan orang tua tidak akan efektif bila hanya terjadi komunikasi satu arah. Berilah contoh yang kepada anak mengenai perilaku yang baik dari orang tua mereka sehari-hari. Ini bisa dimulai dengan hal-hal yang biasa sehari-hari kita lakukan di rumah. Dengan begitu, kedepan diharapkan anak akan dapat mulai sedikit demi sedikit mencontoh perilaku yang positif dari orang tuanya.



2.Pembiasaan

Setelah adanya contoh yang baik dari orang tua, maka perlu dilakukan pembiasaan dari perilaku-perilaku yang telah dilakukan tadi. Hal ini penting karena dihawatirkan bila orang tua saat tak ada disisi mereka, perilaku-perilaku yang anak lakukan akan dapat berubah kembali. Dengan adanya pembiasaan, maka perilaku positif tersebut akan menjadi tabiat positif anak sehingga ada atau tidak ada orang tua, hal-hal positif tetap merekalakukan.

3.Nasihat

Selanjutnya adalah nasihat. Dikala proses diatas berlangsung, orang tua juga harus senantiasa memberikan pengertian-pengertian ataupun pemahaman-pemahaman kepada anak mengapa suatu perilaku itu harus dilakukan, apa manfaatnya, baik untuk diri sendiri danyangterpentinguntukoranglain.



4.Kontrol
Setelah langkah-langkah di atas berjalan dengan baik, maka selanjutnya adalah kontrol dari orang tua. Dalam pelaksanaannya, kontrol yang dilakukan mesti dijalankan secara arif dan bijaksana, tidak dengan membuat posisi anak menjadi tersudut, sehingga kontrol justrutidakmenjadiefektif.



5.RewardandPunishment
Yang terakhir adalah memberikan hadiah dan hukuman. Di samping poin-poin di atas, tips kelima ini juga tak kalah pentingnya untuk menumbuhkan minat dan tanggung jawab pada anak. Namun dari pada itu, sebelumnya harus dingat oleh para orang tua bahwa pemberian hukuman kepada anak dimaksudkan untuk mendidik anak bukan untuk menyudutkanapalagimelukaifisik.

Hukuman yang diberikan tidak hanya semata-mata berbentuk fisik, tetapi juga bisa dilakukan hal-hal lain seperti dengan pengurangan hak, atau pemberian suatu tugas tambahan. Andaikata hukuman fisik terpaksa diberikan, maka harus diperhatikan bahwa cubitan kecil ataupun pukulan ringan bisa bisa diberikan dengan syarat: tidak boleh di bagian-bagian vital anak, tidak boleh pada bagian atas tubuh(perut, dada, leher, kepala, punggung) dan tidak boleh meninggalkan bekas. Huallohu a’lam.


( ADI, 26 AGUSTUS 2017 )

Kamis, 24 Agustus 2017

HARAPAN AGAR ANAK TETAP JADI IDAMAN KELUARGA

Agar Anak Tetap Kreatif

Ada  3 ciri anak kreatif yang dominan :
1. Spontan
2. Rasa ingin tahu
3. Tertarik pada hal-hal yang baru
Dan ternyata ke 3 ciri-ciri tersebut terdapat pada diri anak. Berarti semua anak pada dasarnya adalah kreatiff, dan faktor lingkunganlah yang menjadikan anak tidak kreatif. Sedangkan kewajiban orang tua sebenarnya bukanlah mencetak, tetapi lebih pada mempertahankan agar anak tetap kreatif sebagaimana aslinya. Apakah kita sebagai orang tua mampu untuk mempertahankan kreatifitas anak ? ada beberapa pertanyaan yang dapat membantu kita untuk memahami sudah seberapa jauh kemampuan kita dalam hal ini :
a) Apakah kita menerima segala kelebihan dan kekurangan anak kita dan apakah kita mensugesti mereka bahwa mereka mampu atau sebaliknya ?
b)Apakah kita senantiasa menyadari bahwa setoap individu adalah unik dan setiap anak ada-lah otentik, tidak sama dan tidak akan dapat disamakan dengan anak lain ?
c)Apakah kita menyadari bahwa kreatifitas itu bersifat multi dimensional  dan setoap anak memiliki kimensi kreatifitasnya sendiri-sendiri ?
d) Sudahkah kita mencoba mencari dan menelusuri sendiri minat-minat dan bakat-bakat apa yang dimiliki oleh anak-anak kita satu persatu ?
e) Apakah kita telah memberikan dorongan dan cukup menghargai gagasan-gagasan anak kita, atau sebaliknya ?
f) Sudahkah kita memberikan perhatian yang sungguh-sungguh terhadap apa-apa yang tengah dikerjakan oleh anak-anak kita, misalnya dengan ikut melakukan aktifitas bersama anak ?
g)  Apakah kita senantiasa memper-kenalkan berbagai hal yang baru kepada anak-anak kita, atau justru sebaliknya (menyembunyikannya) ?
h) Apakah kita menghadapi anak-anak kita secara santau atau dengan penuh ketegangan ?
i) Sudahkan kita memberikan waktu, tempat, kemudahan dan bahan-bahan agar anak kita kreatif ?
j) Sudahkah kita memberikan anak-anak kita iklim dan pojok khusus untuk melakukan aktifitas mereka ?
k) Apakah selama ini kita menilai hasil kreasi anak kita atau kita lebih tertarik untuk memperhatikan prosesnya ?
l) Apakah selama ini kita menilai hasil kreasi anak dengan menggunakan perspektif kita atau dengan menggunakan perspektif anak ?
m)Apakah kita selama ini cukup terbuka terhadap gagasan dan kreasi anak yang tidak lumrah ?
n)Sudahkah kita memberi penguatan terhadap hasil kreasi anak atau justru melemahkannya ?

4 Kunci Mempertahankan Kreatifitas Anak

Membangun kepribadian anak dengan modal cinta

Dengan cinta maka orangtua dapat menerima anak apa adanya. Terlepas dari apakah orangtua melihat kelebihan anak ataukah tidak, terlepas dari apakah orangtua menyukai cacat (kelemahan) anak atau tidak. Tentu saja hal ini hanya mungkin bagi orangtua yang memiliki tanggungjawah. Orangtua yang baik tidak akan menuntut anaknya untuk sama dengan anak lainnya. Karena setiap individu adalah unik. Kita dapat membentuk kepribadian anak kita, tetapi bukan untuk menyamakan karakter mereka. Seperti kita lihat sahabat Umar ra, Abu Bakar ra dan sebagainya, mereka tidak memiliki karakter yang sama meskipun masing-masing mereka merupakan pribadi-pribadi yang islami. Keunikan mereka  justru menjadian mereka ibarat bintang-bintang yang gemerlapan di langit, terangnya bintang yang satu tidak memudarkan terangnya bintang yang lain. Begitu pula halnya dengan kreatifitas, setoap sahabat adalah insan kreatif. Masing-masing mereka memiliki dimensi kreatifitas sendiri-sindiri. Salman Al-Farisi penggagas perang parit, Umar bin Khattab penggagas ketertiban lalu lintas, Abu Bakar Ash-Shiddiq penggagas tegaknya sistim ekonomi islam, Khalid bin Walid penggagas strategi perang moderen dan banyak lagi.
Tinggal yang menjadi masalah sekarang adalah, kita para orangtua kurang bersungguh-sungguh untuk menemukan bakat-bakat dan minat-minat yang dimiliki oöeh anak. Seolah-olah kita para orangtua lebih suka anak kita menjadi fotokopi orang lain, ketimbang dia tumbuh sebagai suatu pribadi yang utuh. Kalau anak-anak Amerika dengan shibghah (celupan) individualis liberalis dapat mengatakan : I want to be me ! Mengapa anak-anak kita, anak muslim tidak dapat mengatakan : Ana Abdullah ( Saya abdi Allah) ! Kalau kepribadian menentukan kreativitas, maka seorang muslim pada hakekatnya memiliki potensi kreatif lebih besar dibandingkan ummat-ummat lainnya. Karena kepribadian islam tiada tandingannya.

Menumbuhkan dan Mengem-bangkan Motivasi

Kepribadian yang kuat biasanyaa memiliki motivasi yang kuat pula. Tapi karena kreatifitas itu dimulai dari suatu gagasan yang interaktif, maka dorongan dari luar juga diperlukan untuk memunculkan suatu gagasan. Dalam hal ini para orangtua banyak berperan. Dengan komunikasi dialogis dan kemampuan mendengar aktif maka anak akan merasa dipercaya, dihargaai, diperhatikan, dikasihi, didengarkan, dimengerti, didukung, dilibatkan dan diterima segala kelemahan dan keterbatasannya. Dengan ini anak akan memiliki dorongan yang kuat untuk secara berani dan lancar mengemukakan gagasan-gagasannya. Selain komunikasi dialogis dan mengdengar aktif, untuk memotivasi anak agar lebih kreatif, sudah seharusnya kita memberikan perhatian serius kepada aktifitas yang tengah dilakukan oleh anak kita. Seperti misalnya melakukan aktifitas bersama-sama mereka. Kalau kita biasa melakukan shoum dan shalat bersama anak-anak kita, mengapa untuk aktifitas yang lain kita tidak dapat melakukannya ? Bukanlah lebih mudah untuk mentransfer suatu kebiasaan yang sama ketimbang  harus memulai suatu kebiasaan yang sama sekali baru ? Dengan demikian sesungguhnya seorang muslim memiliki peluang yang lebih besar untuk menjadikan anak-anak mereka kreatif. Tinggallah sekarang bagaimana kita sebagai orangtua muslim senantiasa berusaha untuk memperkenalkan anak-anak kita dengan berbagai hal dan sesuatu yang baru untuk memenuhi aspek kognitif mereka. Agar mereka lebih terdorong lagi untuk berpikir dan berbuat secara kreatif. Suatu hal yang perlu dicatat dalam memotivasi anak agar kreatif, lakukanlah serekreatif mungkin dan hindarilah kesan-kesan rekonstruktif.

Mensistimatisir Proses Pembentukan Anak Kreatif

Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua dalam pembentukan anak kreatif adalah :
Pertama : Persiapan waktu, tempat, fasilitas dan bahan yang memadai.
Mengenai waktu dapat berkisar antara 5- 30 menit setiap hari, sangat tergantung pada bentuk kreatifitas apa yang hendak dikembangkan. Begitu pula halnya dengan tempat, ada yang  memerlukan tempat yang khusus dan ada pula yang dapat dilakukan di mana saja. Fasilitas tidak harus selalu canggih, tergantung sasaran apa yang hendak dicapai. Bahan pun tidak harus selalu baru, lebih sering justru menggunakan bahan-bahan sisa atau bekas.
Kedua : Mengatur selang seling kegiatan. Kegiatan diatur sedemikian rupa agar dalam melakukan aktifitas tersebut anak-anak terkadang melakukan aktivitas secara individual, tetapi adakalanya juga melakukan aktifitas secara kelompok. Terkadang anak-anak melakukan aktivitas secara kompetitif, terkadang juga secara kooperatif.
Ketiga : Menyediakan satu sudut khusus untuk anak dalam melakukan aktifitas
Kita dapat menyediakan satu sudut di rumah untuk menghamparkan sajadah dan kemudian shalat diatasnya. Mengapa kita tidak dapat menyediakan sudut khusus untuk kreatifitas anak-anak kita ?
Keempat : Memelihara iklim kreatifitas agar tetap terpelihara
Caranya dengan mengoptimalkan point-point yang telah disebutkan pada kunci no 2 untuk mempertahankan kreatifitas anak.

Mengevaluasi Hasil Kreativitas

Selama ini kita sering terjebak untuk menilai kreatifitas melalui hasil atau produk kreatifita. Padahal sesunggunya proses itu lebih penting ketimbang hasilnya. Pentingnya penilaian kita terhadap proses kreatifitas, bukan berarti kita tidak boleh menilai hasil kreatifitas itu sendiri. Penilaian tetap dilakukan, hanya saja ada satu hal yang harus kita perhatikan dalam menilai. Hendaknya kita menilai hasil kreatifitas tersebut dengan menggunakan perspektif anak dan bukan menggunakan perspektif kita sebagai orang tua. Kalau kita mendapati seorang anak berusia 3 tahun dan kemudian dia dapat menyebutkan angka dari 1 sampai 10 apakah kita akan mengatakan, “Ah, kalau cuma kaya’ begitu saya bisa !” Tentu saja satu hal yang tidak boleh dilupakan dalam mengevaluasi prosos dan hasil kreatifitas adalah “Open Mind” atau dengan “Pikiran yang terbuka”. Apalagi anak seringkali mengemukakan gagasannya atau menelurkan suatu hasil kreatifitas yang tidak lazim. Setiap kali kita mengevaluasi hasil tersebut, kita harus selalu memberikan dukungan dan juga penguatan. Dan begitu juga sebaliknya, jauhi celaan dan hukuman ... agar anak kita tetap kreatif.
Tulisan diangkat dari Ummi 8/VI/ 1994
Oleh Asma Karimah

Perilaku Hiperaktiv Pada Anak

Imad (5 tahun) tidak disukai teman-temannya. Orang tua sering menjadi khawatir jika Imad mendekati anak-anaknya. Mereka yang mengamati tingkah-laku Imad sering menyatakan bahwa ia hiperaktif. Apakah sebenarnya perilaku hiperaktif ? Bagaimana cara mengatasinya ?

Hiperaktif

Hiperaktif adalah suatu pola perilaku seseorang yang menunjukkan sikap tidak mau diam, tidak menaruh perhatian dan impulsif (semaunya sendiri). Anak yang hiperaktif cenderung untuk selalu bergerak, bahkan dalam situasi yang menuntut agar mereka bersikap tenang. Mereka tidak bisa berkonsentrasi dalam waktu beberapa menit saja. Sebentar-sebentar mereka bergerak untuk pindah dari permainan yang satu ke permainan yang lain. Hal ini disebabkan karena mereka merasa tidak puas dengan kegiatan yang dilakukannya.
Menurut Dr. Erik Taylor, perbedaan jenis kelamin dapat menentukan peluang seorang anak untuk berperilaku hiperaktif. Anak laki-laki mempunyi kemungkinan 3 sampai 4 kali lebih besar untuk menjadi hiperaktif dibanding anak perempuan. Karena masalah yang biasanya menyertei hiperaktivitas (misal sifat agresif) pada anak perempuan tidak begitu berkembang.

Anak Anda Hiperaktif ?

Seringkali orang tua terlalu dini untuk menilai anaknya hiperaktif. Vonis ini dijatuhkan begitu melihat keaktifan anaknya yang melebihi anak lain. Padahal belum tentu demikian.
Dr. Erik Taylor membagi perilaku aktif yang berlebihan menjadi 3, yaitu :
1) Overaktivitas, yaitu perilaku anak yang tidak mau diam yang disebabkan kelebihan energi. Hal ini menandakan bahwa anak tersebut sehat, cerdas dan penuh semangat. Tapi overaktifitas sesaat bisa terjadi pada anak yang keaktifannya normal.
2) Hiperaktivitas, yaitu pola perilaku overaktif yang cenderung ngawur (tidak pada tempatnya).
3) Sindrom hiperkinetik, yaitu semua bentuk hiperaktifitas parah, yang menyertai jenis kelambatan lain dalam perkembangan psikologi, misalnya sikap kikuk dan kesulitan bicara. Anak yang berperilaku sangat aktif pada usia 2-3 tahun belum bisa dikatagorikan hiperaktif, karena rentang aktivitas yang dianggap normal masih besar. Baru setelah anak berusia 3 tahun keatas, aktivitas tidak terarahnya akan menurun drastis. Sebab itu, telebih dahulu perhatikanlah dengan seksama, apakah overaktivitas anak hanya karena ia tidak mampu memusatkan perhatiannya terhadap sesuatu lebih dari beberapa menit saja, ataukah ia tidak mampu mengendalikan diri dalam situasi yang menuntutnya untuk bersikap tenang.

Penyebab Hiperaktif

Beberapa hal yang dapat menyebabkan perilaku hiperaktif ialah :
1) Kondisi saat hamil & persalinan. Misalnya keracunan pada akhir kehamilan (ditandai dengan tingginya tekanan darah, pembengkakan kaki & ekskresi protein melalui urin), cedera pada otak akibat komplikasi persalinan.
2) Cedera otak sesudah lahir,yang disebabkan oleh benturan kuat pada kepala anak.
3) Tingkat keracunan timbal yang parah dapat mengakibatkan kerusakan otak.Hal ini ditandai dengan kesulitan konsentrasi, belajar dan perilaku hiperaktif. Polusi timbal berasal dari industri peleburan baterai, mobil bekas, asap kendaraan atau cat rumah yang tua. Obat untuk mengeluarkan timbal dari dalam tubuh hanya diberikan dibawah pengawasan dokter bagi anak kadar timbalnya sudah sangat tinggi, karena obat tersebut mempunyai efek samping.
4) Lemah pendengaran, yang disebabkan infeksi telinga sehingga anak tidak dapat mereproduksi bunyi yang didengarnya. Akibatnya, tingkah laku menjadi tidak terkendali & perkembangan bahasanya yang lamban. Segeralah hubungi dokter THT jika anak menunjukkan ciri berikut : perkembangan bahasa yang lambat, lebih banyak memperhatikan mimik lawan bicara & lebih banyak berreaksi terhadap perubahan mimik & isyarat.
5) Faktor psikis, yang lebih banyak dipengaruhi oleh hubungan anak dengan dunia luar. Meskipun jarang, hubungan dengan anggota keluarga dapat pula menjadi penyebab hiperaktivitas. Contoh kasus, orang tua yang bersikap sangat tegas menyuruh anak berdiri 15 menit di pojok ruangan untuk mengatasi ketidakdisiplinannya. Tapi setelah 15 menit berlalu, maka anak malah mempunyai energi berlebih yang siap meledak dengan akibat lebih negativ dibanding kesalahan sebelumnya.

Mengatasi Hiperaktivitas

Hal utama dalam mengatasi hiperaktivitas anak adalah hubungan yang baik antara orang tua & anak. Berikut ini beberapa kaidah bagi orang tua dalam berinteraksi dengan anak :

1) Mengidentifikasi segi positif.

Tidak ada anak yang benar-benar berantakan tanpa mempunyai segi positif, sekalipun ia tergolong anak yang hiperaktif. Satu hal yang salah & sering terjadi, bahwa orang tua mengukur segi positif anak dengan saudara sekandung atau teman sebayanya.
Perlu disadari bahwa setiap anak mempunyai perkembangan yang berbeda meskipun saudara sekandung. Beberapa peraturan bagi anak dapat dibuat dengan memenuhi syarat berikut : jelas & tidak abstrak, sesuai syar’i, diawali dengan peraturan mudah dalam waktu yang pendek, tidak dengan marah ketika menerangkannya pada anak, sesuai dengan tingkat perkembangan anak dan tidak terlalu banyak.

2) Memberi hadiah

Misalnya jika anak berhasil, yang bersifat : langsung diberikan, menyenang-kan hati anak tanpa keluar dari batas syar’i, konsisten yang berarti diberikan bagi anak yang benar-benar berhasil dan bukan karena rengekan, disampaikan dengan hangat & dibarengai dengan pujian.

3) Sekali waktu mengajak anak menyalurkan energinya di tempat yang lebih luas,

misalnya di taman. Jika orang tua merasa butuh pertolongan, anak bisa dibawa ke klinik spesialis terpadu. Disana anak akan dibantu oleh beberapa ahlinya dalam ilmu penyakit jiwa anak, ilmu jiwa klinik, ilmu jiwa pendidikan, dokter anak & psikoterapis. Bagaimanapun, anak adalah amanah Allah. Tugas orang tua adalah bagaimana memaksimalkan diri dalam membawa mereka menjadi hamba Allah yang shalih. Dan Allah-lah yang akan menentukan hasilnya. 

( ADI, 24 AGUSTUS 2017 )


Rabu, 16 Agustus 2017

UN ALAT EVALUASI TERBAIK SAAT INI

A. Pandangan terhadap UN

Suatu proses pembelajaran tidak lengkap jika tidak disertai dengan evaluasi. Hasil evaluasi merupakan indikator keberhasilan terhadap pembelajaran terhadap pengajar dan peserta didiknya. Hal ini berlaku pada suatu kelas pembelajaran, tingkat sekolah, tingkat kabupaten/kota sampai tingkat nasional.  Hasilnya menggambarkan tingkatan yg diwakilinya. Saat ini evaluasi yg dilakukan secara nasional untuk melihat ketercapaian pendidikan nasional adalah Ujian Nasional (UN) dalam bentuk tes objektive. Saat ini pelaksanaannya pro kontra apalagi UN dijadikan sebagai penentu kelulusan. Sy tdk bermaksud ikut berpolemik apakah UN itu diperlukan atau tidak, sepanjang belum ada konsep yang lebih matang untuk memantau pencapaian pendidikan secara nasional selain UN, maka UN itulah yg terbaik.
B. Antara Waktu Pelaksanaan & Soal UN

Sebagian orang terjebak dengan istilah UN yang selalu didentikkan dengan satu satuan waktu yg sama,  atau serentak dilakukan diseluruh Indonesia. Menurut saya tidak perlu sekaku itu, menurut pandangan saya salah satu alasan mengapapa ujian itu dilaksanan serentak karena dikuatirkan terjadi kebocoran soal di daerah tertentu yg dapat menyebar ke daerah lain, sehingga ujian itu tdk objektif lagi. Masalah itu bisa diatasi dengan menyediakan jumlah paket soal yang banyak dan benar-benar berbeda, bukan hanya posisi nomor soalnya yg diacak, padahal redaksi soalnya sama. Tentu hal ini menjadi tantangan besar untuk menyediakan soal bervariasi dengan jumlah banyak tetapi setara.
C. Distribusi Soal UN

Distribusi soal yg dilakukan secara fisik dari pusat ke daerah merupakan salah satu kendala besar yang dihadapi dan perlu biaya transportasi dan pengawalan yg luar biasa besar. Hal ini sesungguhnya dapat diperpendek metode distribusinya dengan cara memanfaatkan teknologi informasi baik pendistribusian secara fisik maupun distribusi secara digital.


D. Koreksi Lembar Jawaban UN

Setelah pelaksanaan UN selesai beberapa hari yang akan datang kesulitan berikutnya akan bergeser pada pengoreksian lembar jawaban (LJ) UN. Kesulitan muncul disebabkan antara lain kualitas LJ yg baik baik sehingga sulit terbaca (apalagi ada yg difotokopi), cara pengisian yang kurang sempurna. Dua-duanya memberikan dapat memberikan efek hasil ujian tidak dapat terbaca, sehingga panitia harus bekerja 2 kali harus “menghitamkan” ulang atau sekalian membiarkan seperti itu. Selain dua masalah tersebut waktu yg dibutuhkan untuk mengeroksi lembar jawaban tersebut juga lumayan lama.
Berdasarkan uraian diatas dan pengalaman kami bersama teman2 mengembangkan sistem ujian online dari tahun 2005 sampai saat ini, kami berkesimpulan bahwa sesungguhnya UN dapat dilaksanakan dengan model sistem online. Model sistem online yg maksudkan adalah, Sistem Bank Soal online dan Sistem Ujian Online.
A. Sistem Bank Soal

Berfungsi untuk menampung soal, melakukan pengacakan, melakukan pemaketan, melakakuan analisi butir soal dari setiap mata pelajaran yg diujikan. Sistem bank soal ini mengakomodir secara detail level yang akan dicapai mulai kompetensi utama, kompetensi inti, standar kompetensi (SK), kompetensi dasar (KD), indikator esensial dan level taksonomi yg akan dicapai. Sistem ini dapat menyediakan soal ujian dalam bentuk digital untuk keperluan ujian online dan juga dapat menyediakan soal versi cetak untuk keperluan ujian versi manual. Krn berada dalam suatu sistem maka soal ini dapat distribusikan secara ‘digital’ sesuai dengan kebutuhan.
Sebagai gambaran singkat bagaimana bank soal menyediakan variasi soal ujian, jika setiap mata pelajaran menyediakan 1000 butir dan 100 butih dipilih untuk diujikan, setiap butir soal menyediakan 5 pilihan jawaban. Maka variasi soal yg kemungkinan muncul adalah 1000 x 100 x 5 = 500.000 variasi, saya yakin ‘pelaku kecurangan’ akan keculitan membuat kunci jawaban generik seperti pada umumnya. Kalaupun bisa harus mengulas/membuat kunci jawaban 1000 butir soal tersebut.
B. Sistem Ujian Online

Begitu berbicara sistem ujian online, maka yang ada dikepala sebagian orang adalah ‘kebebasan yg seluas-luasnya’. Padahal sesungguhnya tidak seperti itu, ujian online ada aturannya, ada harus ruangan  ujiannya, ada pengawasnya, aplikasi ujiannya harus dibuat khusus sehingga membatasi kemungkinan orang berbuat curang. Sistem ujian online yg kami kembangkan itu independen (aplikasi & sistem operasinya jadi suatu kesatuan), begitu aplikasi ujian online dijalankan jangan membayangkan bisa buka google, bisa chating/facebookan, atau membuka flasdik. Yang Anda bisa lihat hanya soal ujian dilayar monitor,kecuali anda membuka buku atau gadget lain, hal itu sdh menjadi tugas dan tanggungjawab pengawas ujian.
Setelah itu orang berpikir ujian oline perlu jaringan bandwidth internet “raksasa”, sebenarnya bandwitdh bukan lagi menjadi masalah besar, karena teknologi sdh berkembang dengan mamanfaatkan sistem terdistribusi, ataupun sistem cloud computing. Ini sdh kami buktikan pada UKG Online 2012 kemarin, bandwitdh yang disiapkan 20Mbps yg terpakai hanya 11% saja.
Ujian Online Perlu lab komputer yg canggih : sebenarnya tdk juga, syarat utamannya adalah PC yg dapat terkoneksi jaringan internet. Hal ini sdh kami buktikan bahwa aplikasi yg bangun 90% bisa digunakan pada PC yang ada disekolah-sekolah saat ini tanpa harus ada pengadaan perangkat baru.
Ujian Online perlu listrik dan jaringan internet : ya wajib ada dong, kalau saat ini belum semua  wilayah RI ada aliran listrik dan jaringan internet, kita bisa berharap kawan kalau sistem ujian online  diterapkan pemerintah (PLN dan Telkom) memberikan perhatian khusus. Kalau memang tidak ada pasti tdk bisa dipaksakan, solusinya dengan cara ujian manual dengan soal dari sistem bank soal online.
Ujian Online semakin gampang soal bocor: segampang-gampangnya membocorkan soal ujian online jauh lebih gampang membocorkan soal yg tercetak dikertas. Sehandal apapun sistem itu pasti ada celahnya, kemampuan untuk mendapatkan celah itu tdk sebanyak celah yg ada pada sistem manual. Kami menyakini bahwan setiap peluang yg ada sdh menjadi kodrati akan lahir bersama masalahnya. Setiap masalah pasti ada solusinya.
Biaya Ujian Online Mahal: Memang betul mahal biaya investasi lab komputernya, tetapi keuntungan dapat digunakan berulangkali bahkan dapat memberikan manfaat yg lebih besar pada kegiatan pembelajaran sehari-hari. Jika kita menghitung secara biaya ujian yang diselenggarakan secara manual, mulai cetak soal, distribusi, pengawalan soal dari pihak keamanan, biaya mengoreksi hasil ujian. Waktu yang dibutuhkan jauh lebih lama. Sehingga dibandingkan ujian manual jauh lebih mahal dari pada ujian online.
Ujian Online Sulit karena tdk semua orang bisa mengoperasikan komputer : Mengoperasikan komputer buat  sebagian besar orang mungking memang sulit, tetapi untuk sekedar menekan huruf A, B, C, D spasi dan beberapa tombol keyboard lainnya bukanlah hal sulit. Sistem ujian yang kami bangun sdh dirancang untuk orang gaptek sekalipun. Jauh lebih sulit dan beresiko memberikan/mengganti jawaban ujian manual dan ujian online.
Ujian online perlu SDM yang handal dibidang IT : kalau ini sy setuju 100%, sesungguhnya dunia pendidikan kita masih sangat memerlukan keberadaan orang IT dengan pola pikir IT. Pola pikir IT sederhana yaitu Ya (1) atau Tidak (0). Oleh karena itu sy harus jujur mengatakan belum saatnya matapelajaran TIK dihilangkan dikurikulum, karena siswa dan guru masih sangat membutuhkan matapelajaran TIK.




 Kesimpulan

      Dari berbagai urian dan penjelasan di atas kiranya dapat di ambil kesimpulan sebagai berikut :
1.      Ujian Nasional harus lebih dikaji lagi dari tiap  tahun ke tahun serta dari kajian tersebut pemerintah harus selalu memperbaiki mutu ujian nasional lebih baik.
2.      Persiapan Ujian Nasional harus betul-betul dipersiapkan secara sistematis dan terkontrol.Agar pendistribusian Soal,kekurangan Soal serta LJUN yang kurang tidak terjadi lagi.
3.      Distribusi soal yg dilakukan secara fisik dari pusat ke daerah merupakan salah satu kendala besar yang dihadapi dan perlu biaya transportasi dan pengawalan yg luar biasa besar. Hal ini sesungguhnya dapat diperpendek metode distribusinya dengan cara memanfaatkan teknologi informasi baik pendistribusian secara fisik maupun distribusi secara digital.Atau Pihak Pemerintah mempercayaan provinsi untuk mencetak soal-soal tersebut dengan memberikan dokumen asli ke pada provinsi dan provinsi yang mengelola pendistribusian Soal dan LJUN tersebut.sehingga masing-masing provinsi lebih meningkatkan efesiensinya untuk kelancaran ujian nasional disekolah-sekolah diprovinsi mereka masing-masing.

Saran


            Jadikan hal ini sebagai pengalaman kedepan dan pemerintah lebih meningkatkan kinerjanya dalam penyelenggaraan Ujin Nasional lebih baik lagi.

KAPAN AWAL MULA UJIAN NASIONAL MUNCUL

Asal Usul Munculnya Ujian Nasional

Yang namanya Ujian Nasional atau UN pasti semua orang baik dewasa sampai anak-anak tahu. Namun mengenai sejarah panjang mengenai ujian untuk penentuan kelulusan peserta didik pada setiap tingkatan mulai dari jaman perjuangan hingga sekarang tentu tidak banyak yang mengetahui, terutama bagi mereka yang tidak mengalaminya.  sejarah perkembangan ujian di Indonesia dari awal hingga sekarang.
Pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, sistem ujian nasional telah mengalami beberapa kali perubahan dan penyempurnaan, perkembangan ujian nasional tersebut yaitu :

1. Periode sebelum tahun 1969

Pada periode ini, sistem ujian akhir yang diterapkan disebut dengan Ujian Negara, berlaku untuk semua mata pelajaran. bahkan ujian dan pelaksanaannya ditetapkan oleh pemerintah pusat dan seragam untuk seluruh wilayah di Indonesia.

2. Periode 1972 – 1982

Pada tahun 1972 diterapkan sistem Ujian Sekolah di mana setiap atau sekelompok sekolah menyelenggarakan ujian akhir masing-masing. Soal dan hasil pemrosesan hasil ujian semuanya ditentukan oleh masing-masing sekolah/ kelompok sekolah. Pemerintah pusat hanya menyusun dan mengeluarkan pedoman yang bersifat umum. Untuk meningkatkan dan mengendalikan mutu pendidikan serta diperolehnya nilai yang memiliki makna yang “sama” dan dapat dibandingkan antar sekolah.

3. Periode 1982 – 2002

Pada tahun 1982 dilaksanakan ujian akhir nasional yang dikenal dengan sebutan Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (EBTANAS). dalam EBTANAS dikembangkan sejumlah perangkat soal yang “pararel” untuk setiap mata pelajaran dan penggandaan soal dilakukan didaerah. Pada EBTANAS kelulusan siswa ditentukan oleh kombinasi nilai semester I (P), nilai semester II (Q) dan nilai EBTANAS murni (R)

4. Periode 2002-2004

Pada tahun 2002, EBTANAS diganti dengan penilaian hasil belajar secara nasional dan kemudian berubah nama menjadi Ujian Akhir Nasional (UAN). Perbedaan yang menonjol antara UAN dengan EBTANAS adalah dalam cara menentukan kelulusan siswa, terutama sejak tahun 2003. Untuk  kelulusan siswa pada UAN ditentukan oleh nilai mata pelajaran secara individual
.
5. Periode 2005 – sekarang


Mulai tahun 2005 untuk mendorong tercapainya target wajib belajar pendidikan yang bermutu, pemerintah menyelenggarakan Ujian Nasional (UN) untuk SMP/MTs/SMPLB dan SMA/SMK/MA/SMALB/SMKLB. Sedangkan untuk mendorong tercapainya target wajib belajar pendidikan yang bermutu, mulai tahun ajaran 2008/2009 pemerintah menyelenggarakan Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) untuk SD/MI/SDLB.

( ADI, 16 AGUSTUS 2017 )

Senin, 20 April 2015

Puisi RA Kartini


R.A. Kartini

Demi bangsa Indonesia
Engkau rela mengorbankan
Jiwa dan raga Mu
Demi penduduk bangsa Indonesia
Engkau rela mengorbankan
Harta dan benda Mu
Nama Mu Takkan mungkin
Dapat terlupakan karena
Engkau bunga bangsa Indonesia
Belum sempat engkau merasakan
Kemerdekaan engkau telah
Gugur sebagai pahlawan Indonesia
Ibu R. A. Kartini engkau lah yang
Menjujung tinggi derajat wanita Indonesia
Jasa Mu tak akan mungkin di lupakan
Oleh penduduk Indonesi

Sabtu, 18 April 2015

Mading Pendidikan


Jumat, 17 April 2015

Pendidikan Lingkungan Hidup: Membelajarkan Anak pada Kearifan Alam

Pendidikan Lingkungan Hidup: Membelajarkan Anak pada Kearifan Alam


             Pendidikan lingkungan hidup yang diajarkan pada tingkat sekolah dasar dan menengah dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) mengisyaratkan pentingnya kreativitas dalam mengembangkan pembelajaran. Alam adalah sumber belajar yang tidak akan pernah habis untuk dieksplorasi, dikembangkan dan dijadikan media pembelajaran  yang menarik bagi siswa didik. Alam mengajarkan banyak hal tentang kehidupan, tentang nilai-nilai, tentang kebaikan dan keburukan yang dikomunikasikan dengan bahasanya  sendiri.
 Perkembangan teknologi informasi yang makin pesat telah menggeser pola  perilaku anak yang lebih banyak dipengaruhi oleh media elektronik dibanding berelasi dengan alam lingkungannya. Magnet televisi, game komputer, bermain-main dengan handphone adalah keprihatinan mendalam yang terjadi pada anak-anak. Tanpa disadari, telah begitu banyak yang terlewati oleh anak dari kearipan alam dan lingkungan yang menjadi ruang hidup mereka. Tulisan ini merupakan catatan kecil tentang bagaimana kreativitas pembelajaran dan menumbuh kembangkan suasana belajar yang menyenangkan bagi anak dengan alam  sebagai media dan sumber belajarnya.
Mengenalkan alam dan lingkungan, mengajarkan apa yang ada di dalamnya, mendidik siswa untuk mencintai dan menanamkan kesadaran untuk menjadi manusia yang bertanggungjawab terhadap alam dan lingkungannya merupakan proses yang harus ditempuh secara bertahap dalam PLH. Strategi dan metode  pembelajarannya sangat tergantung pada kebutuhan siswa dan karakeristik alam dan lingkungan dimana sekolah berada.

Secara formal, pendidikan lingkungan menjadi salah satu alternative yang rasional untuk memasukkan pendidikan lingkungan ke dalam kurikulum. Hal ini ditegaskan dengan  penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) tahun 1996 yang kemudian direvisi pada bulan Juni 2005. Penandatanganan MOU tersebut harus dihargai sebagai usaha untuk mengupayakan bagaimana kecintaan terhadap lingkungan dapat dijadikan sebagai muatan pendidikan bagi siswa didik sejak usia dini pada pendidikan formal. Karena  bagaimanapun, usaha sadar yang lebih terstruktur dan tersistem dalam suatu aturan formal dapat menjadi kekuatan bersama untuk mencapai tujuan pendidikan lingkungan selama  pada tarap implementasinya dilakukan secara holistik dan berkesinambungan.

 
Alam dan Lingkungan Sebagai Media Belajar



          Pendidikan lingkungan hidup yang diajarkan pada tingkat sekolah dasar dan menengah dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) mengisyaratkan pentingnya kreativitas dalam mengembangkan pembelajaran. Alam adalah sumber belajar yang tidak akan pernah habis untuk dieksplorasi, dikembangkan dan dijadikan media pembelajaran yang menarik bagi siswa didik.
Alam mengajarkan banyak hal tentang kehidupan, tentang nilai-nilai, tentang kebaikan dan keburukan yang dikomunikasikan dengan bahasanya sendiri. Perkembangan teknologi informasi yang makin pesat telah menggeser pola perilaku anak yang lebih  banyak dipengaruhi oleh media elektronik dibanding berelasi dengan alam lingkungannya. Magnet televisi, game komputer, bermain-main dengan handphone adalah keprihatinan mendalam yang terjadi pada anak-anak. Tanpa disadari, telah begitu banyak yang terlewati oleh anak dari kearipan alam dan lingkungan yang menjadi ruang hidup mereka.
Mengenalkan alam dan lingkungan, mengajarkan apa yang ada di dalamnya, mendidik siswa untuk mencintai dan menanamkan kesadaran untuk menjadi manusia yang  bertanggungjawab terhadap alam dan lingkungannya merupakan proses yang harus ditempuh secara bertahap dalam PLH. Strategi dan metode pembelajarannya sangat tergantung pada kebutuhan siswa dan karakeristik alam dan lingkungan dimana sekolah  berada.




BANK SAMPAH TERINTEGRASI  BERBASIS EDUKASI
E-mailPrint
Mari Menabung di Bank Sampah.
MOTTO
MENABUNG UANG DENGAN SAMPAH, PINJAM UANG, NYICIL SAMPAH, BELI SEMBAKO, BAYAR SAMPAH, DAN BISA BAYAR  LISTRIK DENGAN SAMPAH



Program Penyadaran Masyarakat, sudah mengelola sampah dari Sumbernya .Sampah yang identik dengan anggapan negatif, Didirikannya Bank Sampah adalah  bagaimana membalikan sampah yang identik dengan image negatif menjadi image positif. Sampah yang selalu kita kenal adalah benda yang kotor, berpotensi membawa penyakit atau virus, tempat bersarang nyamuk, dan hal buruk lain. serta sampah juga menjadi barang yang harus ditekan produksinya.
 Hal lainnya juga adalah sampah yang tidak ramah lingkungan harus ditekan dengan re-use, re-cycle, re-duce yang telah kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Upaya dalam menciptakan lingkungan yang sehat, salah satunya dengan mengolah sampah rumah tangga. Dengan mengolah sampah rumah tangga dari lingkungan terkecil yaitu keluarga maka akan dapat mengantisipasi timbulnya penyakit atau virus yang berbasis lingkungan.
perubahan cara kita memandang dan memperlakukan sampah. Sudah saatnya kita memandang sampah punya nilai guna dan manfaat sehingga tidak layak dibuang percuma
Tentunya akan sangat berbeda begitu Masyarakat mendengar akan Bank Sampah. Tentu hal ini akan membuat persepsi tentang sampah akan berbeda .Sistem pengelolaan sampah dengan Tabungan sampah di bank sampah.
Dengan sistem ini, masyarakat akan mendapatkan banyak keuntungan. Antara lain, cakupan layanan yang sangat luas bahkan kita dapat mengatur seberapa luas wilayah pelayanannya..Hal lain yang membedakan sistem ini dengan sistem lainnya adalah adanya mekanisme pengelolaan sampah dengan menabung.  Menabung di Bank Sampah dengan menyetor Sampah merupakan salah satu upaya merubah Pola pikir . mindset Masyarakat tentang Sampah, Sampah menjadi mempunyai nilai ekonomis.

Kampanye  Slogan di Bank Sampah :
1.    Tabungan Sampah untuk Bayar Listrik
2.    Tabungan  sampah untuk Bayar Pulsa
3.    Tabungan Sampah untukBayar  PDAM
4.    Tabungan Sampah Untuk Biaya Sekolah Anak

Menabung di Bank Sampah Tak hanya itu, dampak bagi kesehatan dan dampak terhadap sosial ekonomi dapat kita rasakan terlebih lagi manfaat terhadap pendidikan. Dari sini dapat dilihat bahwa sistem pengelolaan sampah dengan menabung di bank sampah memiliki manfaat yang lebih banyak dibandingkan sistem pengelolaan sampah yang konvensional.

Sistem pengelolaan sampah di bank sampah sesuai dengan peraturan Undang-Undang no 18 Tahun 2008, bahwa dalam penyelenggaraan pengelolaan sampah rumah tangga dan sejenisnya dengan cara pengurangan sampah, dan penanganan sampah, sistem pengelolaan sampah dengan menabung di bank sampah, menekankan juga pentingnya menggerakan masyarakat agar tahu dan mau berpartisipasi secara aktif dalam mengelola sampah rumah tangga. Dalam sistem pengelolaan sampah dengan menabung di bank sampah ini, diperlukan partisipasi masyarakat. Dengan memberdayakan masyarakat maka sistem pengelolaan ini dapat berdiri secara mandiri tanpa bergantung kepada bantuan luar, serta kemandirian masyarakat dapat terwujud. Selain memberdayakan masyarakat, dalam upaya mewujudkan sistem pengelolaan sampah diperlukan juga upaya memberdayakan keluarga.

Konsep dasar Bank Sampah: melakukan 5M, yaitu:
1.    Mengurangi sampah,
2.    Memilah sampah,
3.    Memanfaatkan sampah,
4.    Mendaurulang sampah, dan
5.    Menabung sampah.





Senin, 13 April 2015

BANK SAMPAH TERINTEGRASI BERBASIS EDUKASI

BANK SAMPAH TERINTEGRASI  BERBASIS EDUKASI
Mari Menabung di Bank Sampah.

MOTTO

MENABUNG UANG DENGAN SAMPAH, PINJAM UANG, NYICIL SAMPAH, BELI SEMBAKO, BAYAR SAMPAH, DAN BISA BAYAR  LISTRIK DENGAN SAMPAH

Program Penyadaran Masyarakat, sudah mengelola sampah dari Sumbernya .Sampah yang identik dengan anggapan negatif, Didirikannya Bank Sampah adalah  bagaimana membalikan sampah yang identik dengan image negatif menjadi image positif. Sampah yang selalu kita kenal adalah benda yang kotor, berpotensi membawa penyakit atau virus, tempat bersarang nyamuk, dan hal buruk lain. serta sampah juga menjadi barang yang harus ditekan produksinya.
 Hal lainnya juga adalah sampah yang tidak ramah lingkungan harus ditekan dengan re-use, re-cycle, re-duce yang telah kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Upaya dalam menciptakan lingkungan yang sehat, salah satunya dengan mengolah sampah rumah tangga. Dengan mengolah sampah rumah tangga dari lingkungan terkecil yaitu keluarga maka akan dapat mengantisipasi timbulnya penyakit atau virus yang berbasis lingkungan.
perubahan cara kita memandang dan memperlakukan sampah. Sudah saatnya kita memandang sampah punya nilai guna dan manfaat sehingga tidak layak dibuang percuma
Tentunya akan sangat berbeda begitu Masyarakat mendengar akan Bank Sampah. Tentu hal ini akan membuat persepsi tentang sampah akan berbeda .Sistem pengelolaan sampah dengan Tabungan sampah di bank sampah.
Dengan sistem ini, masyarakat akan mendapatkan banyak keuntungan. Antara lain, cakupan layanan yang sangat luas bahkan kita dapat mengatur seberapa luas wilayah pelayanannya..Hal lain yang membedakan sistem ini dengan sistem lainnya adalah adanya mekanisme pengelolaan sampah dengan menabung.  Menabung di Bank Sampah dengan menyetor Sampah merupakan salah satu upaya merubah Pola pikir . mindset Masyarakat tentang Sampah, Sampah menjadi mempunyai nilai ekonomis.
Kampanye  Slogan di Bank Sampah :
1.    Tabungan Sampah untuk Bayar Listrik
2.    Tabungan  sampah untuk Bayar Pulsa
3.    Tabungan Sampah untukBayar  PDAM
4.    Tabungan Sampah Untuk Biaya Sekolah Anak


           Menabung di Bank Sampah Tak hanya itu, dampak bagi kesehatan dan dampak terhadap sosial ekonomi dapat kita rasakan terlebih lagi manfaat terhadap pendidikan. Dari sini dapat dilihat bahwa sistem pengelolaan sampah dengan menabung di bank sampah memiliki manfaat yang lebih banyak dibandingkan sistem pengelolaan sampah yang konvensional.

           Sistem pengelolaan sampah di bank sampah sesuai dengan peraturan Undang-Undang no 18 Tahun 2008, bahwa dalam penyelenggaraan pengelolaan sampah rumah tangga dan sejenisnya dengan cara pengurangan sampah, dan penanganan sampah, sistem pengelolaan sampah dengan menabung di bank sampah, menekankan juga pentingnya menggerakan masyarakat agar tahu dan mau berpartisipasi secara aktif dalam mengelola sampah rumah tangga. Dalam sistem pengelolaan sampah dengan menabung di bank sampah ini, diperlukan partisipasi masyarakat. Dengan memberdayakan masyarakat maka sistem pengelolaan ini dapat berdiri secara mandiri tanpa bergantung kepada bantuan luar, serta kemandirian masyarakat dapat terwujud. Selain memberdayakan masyarakat, dalam upaya mewujudkan sistem pengelolaan sampah diperlukan juga upaya memberdayakan keluarga.

Konsep dasar Bank Sampah: melakukan 5M, yaitu:
1.    Mengurangi sampah,
2.    Memilah sampah,
3.    Memanfaatkan sampah,
4.    Mendaurulang sampah, dan
5.    Menabung sampah.



Kamis, 12 Maret 2015

Pendidikan

Sebanyak 150 Guru di Sekolah Swasta Dapatkan Honor Tambahan Rp 300 ribu perbulan



Guru-guru swasta di lembaga SD dan SMP mendapatkan honor tambahan dari pemkot Pasuruan sebesar Rp 300 ribu perbulan. Honor tersebut diberikan ke semua guru-guru di sekolah swasta yang dipandang memenuhi syarat menerima. Honor tersebut dibayarkan dalam enam bulan sekali.
Kepala dinas pendidikan Kota Pasuruan, Suharyanto mengatakan program tersebut terlaksana di tahun lalu dan terus berjalan hingga saat ini. Dalam pelaksanaannya, sebanyak 150 guru SD dan SMP di lembaga swasta mendapatkan honor tersebut.
“Kuotanya memang hanya untuk 150 orang guru. Jadi kami melakukan pemilihan di sekolah-sekolah. Satu sekolah ada 1 hingga dua guru yang kmai pilih untuk mendapatkan honor tambahan tersebut. besarannay sebanyak Rp 300 ribu”
Guru-guru tersebut merupakan perwakilan dari semua sekolah swasta di Kota Pasuruan. Bahkan, menurut Suharyanto sekolah yang non Islam juga mendapatkan kuota tersebut.
“Pada dasarnya kami ingin agar kesetaraan dan plural itu bisa tercipta. Maka, upaya kami mengangkat pendidikan agar semuanay sama. Guru-guru yang ada di SD dan SMP seperti Sang Timur dan Elkana juga mendapatkan honor tambahan tersebut” imbuhnya.
Suharyanto menejlaskan jika pemilihan yang dilakukan oleh pihaknya berdasarkan persyaratan bahwa guru penerima honor tambahan tersebut tidak sedang mendapatkan tunjangan apapun.
“Jadi kami bertujuan agar guru-guru yang tidak dapat sertifikasi pendidik atau mendapatkan tunjangan profesi lainnya, agar sama dengan teman-temannya. Meskipun jumlahnya tidak banyak, namun ini sebagai bentuk kepedulian kami atas guru tersebut”
Mantan kepala diskoperindag Kota Pasuruan tersebut emnambahkan dana yang digunakan untuk membayar honor guru-guru swasta tersebut berasal dari dana sharing pemerintah provinsi.
“Itu berasal dari dana sharing pemprov yang ditambah dengan dana APBD. Jadi dana pendidikan itu kami gunakan juga untuk keperluan menyejahterakan guru. Kan kasihan itu yang ndak mendapatkan tunjangan apapaun”
Untuk menambah kuota guru penerima honor tambahan tersebut, Suharyanto mengatakan pihaknya terus berusaha sehingga semua guru di lembaga swasta juga bisa mendapatkan penghasilan yang layak.
“Pemkot dan kami prihatin dengan guru madin, guru TPQ dan guru di sekolah swasta. Gaji yang mereka tidak seberapa namun mereka mendedikasikan diri ke pendidikan secara total. Sehingga kami menguapayakn agar ke depannya honor tambahan tersebut bertambah atau kuotanya yang bertambah” imbuhnya. (Radar Bromo)

Mau Tahu Tentang Kurikulum 2013 ?





Memang banyak tanggapan mengenai kurikulum baru ini. Tidak hanya yang mendukung dengan menjelaskan berbagai kelebihannya, yang memprotes pun dengan berbagai alasan juga tidak sedikit. Dan dari sekian banyak alasan itu adalah karena masih asingnya kurikulum 2013 yang beru dikenalkan belakangan ini.
Namun, jika memang kurikulum ini nantinya jadi diterapkan, maka setiap guru wajib menerimanya sebagai kurikulum yang dipakai di tempatnya mengajar. Karena itu langkah yang baik saat ini adalah bagaimana kita sebagai pendidik bisa mengetahui karakteristik kurikulum 2013. Ini penting karena dengan mengetahui karaktersitiknya, kita bisa tahu apa tujuan dari kurikulum yang di gagas untuk menjadikan anak didik lebih peka pada lingkungan sekitarnya ini.
Dari perkambangan penerapan kurikulum 2013 hingga saat ini menitikberatkan pada empat Kompetansi Inti (4 KI). Adapun kompetensi itu adalah sebagai berikut:
Kompetensi Inti Spiritual
Kompetensi ini mengerahkan anak untuk lebih dekat pada Tuhannya. Bagaimana dalam bersikap ia mencerminkan seorang hamba Tuhan yang taat. Dengan pencapaian kompetensi ini tentunya kelak diharapkan para generasi penerus bangsa adalah generasi yang selalu ingat dan menerapkan setiap ajaran agamanya dengan baik.
Jadi setiap anak melakukan perbuatan baik semata-mata karena kedekatannya kepata Tuhan yang menciptakan dia. Dengan kompetansi ini maka lahirlah kompetensi kedua, yaitu kompetensi inti sosial.
Kompetensi Inti Sosial
Kompetensi Inti Sosial adalah bagaimana mendidik agar anak didik bisa bergaul dengan baik dalam lingkungan sekitarnya. Ini dimulai bagaimana ia menjadi anak yang patuh pada orangtuanya di rumah. Anak juga diharapkan bisa bergaul dengan baik dengan gurunya, teman sekolahnya dan tetangga, teman maupun orang yang beru ditemuinya.
Diharapkan dengan kompetensi ini anak didik menjadi makhluk sosial yang cerdas. Ya, cerdas sosial memang saat ini menjadi hal yang langka disaat segala sesuatu dilakukan dengan pamrih tertentu. Dengan kompetensi ini pendidik sebisa mungkin menanamkan nilai kepada anak didiknya tentang sikap altruisme. Yaitu sikap yang mengutamakan kepentingan orang banyak dibanding hanya mementingkan dirinya sendiri.
Kompetensi Inti Kognitif
Tidak seperti pada kurikulum sebelumnya yang mendapat poresi paling besar, kompetensi Inti Kognitif pada kurikulum 2013 mendapat porsi yang lebih sedikit dibanding dua kompetensi lainnya; Kompetensi Inti Spiritual dan Kompetensi Inti Sosial. Ini dilakukan agar nantinya titik berat pendidikan bukan hanya pada nilai angka yang diperoleh anak didik, tapi bagaimana mereka bisa menjadi pribadi yang patuh pada Tuhannya dan peka pada lingkuangannya.
Kompetensi Inti Skill
Untuk medukung tujuan setiap pendidikan, maka pada kurikulum 2013 dimasukkan Kompetensi Inti Skill. Tujuannya adalah agar aetiap anak didik mempunyai keterampilan yang menjadi kelebihannya. Dengan tujuan menjadikan anak didik yang patuh kepada Tuhannya dan peduli lingkungannnya, maka lebih sempurna lagi jika mereka mempunyai keterampilan yag nantinya bisa dikembangkan menjadi keahlian mereka. Dengan begitu kiprah mereka dalam kehidupan di masyarakat akan makin maksimal. Itulah karakteristik kurikulum 2013 yang membedakan dengan kurikulum-kurikulum pendidikan Indonesia sebelumnya.